Tangerang – Sumpah Pemuda, yang diikrarkan pada 28 Oktober 1928, adalah salah satu momen paling penting dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia. Ikrar yang dihasilkan dari Kongres Pemuda ini bukan hanya simbol persatuan, tetapi juga menjadi fondasi semangat nasionalisme yang terus menginspirasi generasi demi generasi.
Dalam menyambut momentum hari sumpah pemuda, mahasiswa dari berbagai element bersatu menginisiasi menyelenggarakan acara Focus Group Diskusi yang bertajuk Berbeda Gagasan, Satu Tujuan: “Memperkuat Persatuan Indonesia, Menyambut Momentum Sumpah Pemuda” yang di laksanakan hari ini 19 Oktober 2026 di Caffe Warung Jambu Jakarta Selatan.
Acara ini diikuti oleh perwakilan dari kampus Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah (UIN Jakarta), Universitas Pamulang (Unpam) dan Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ).
Dalam penyampaiannya, Hakim Satria selaku narasumber dari PKM Bunga Rampai UIN Jakarta menyoroti perjalanan persatuan dari sebelum tahun 1928 yang masih bersifat kedaerahan hingga terwujudnya tiga ikrar Sumpah Pemuda.
“Persatuan bukan berarti menyeragamkan, melainkan para pemuda yang berbeda suku, bahasa daerah, dan agama dapat bersepakat pada tujuan bersama sesuai nilai Bhinneka Tunggal Ika”. Lanjutnya, Melalui perspektif Islam, persatuan juga merupakan perintah Al-Qur’an untuk berpegang teguh pada tali agama dan menyadari bahwa manusia diciptakan berbangsa-bangsa untuk saling mengenal.
Untuk menghadapi tantangan masa kini seperti hoaks dan polarisasi, pemuda harus melakukan aksi nyata dengan menyaring informasi, berkolaborasi lintas organisasi, menghargai perbedaan, serta berkarya menciptakan konten positif.
Kemudian narasumber selanjutnya, Bung Syarif selaku Ketua Umum FKPU Unpam menyampaikan bahwa masa depan bangsa tidak hanya bergantung pada kecanggihan teknologi, tetapi juga pada seberapa bijak kita menggunakannya.
“Pemuda tidak hanya menjadi pengguna teknologi atau sekadar penonton di tengah perkembangan zaman, melainkan harus tampil sebagai penggerak perubahan, pencipta inovasi, serta penentu arah masa depan bangsa”. Teknologi sejatinya hanyalah sebuah alat, sementara pemudalah yang menjadi penggerak utamanya untuk mencapai tujuan bersama memajukan bangsa. Ia mengajak agar para pemuda memanfaatkan teknologi digital untuk berkarya, memperkuat persatuan, dan menjelma menjadi sosok yang tidak hanya cerdas digital, tetapi juga kreatif, produktif, dan berkarakter.
Selain itu, narasumber dari perwakilan UMJ Zalfa Adhiya. S selaku Ketua Umum Sinergi Mahasiswa UMJ menyampaikan mengenai transisi makna Sumpah Pemuda di era modern.
“Jika di masa lampau Sumpah Pemuda adalah pemicu kemerdekaan melawan penjajah asing, maka saat ini ikrar tersebut menjadi pendorong kemajuan sekaligus pembendung perpecahan melawan hoaks, konflik politik atau SARA, kemalasan, dan ketertinggalan teknologi. Ia menjabarkan implementasi ikrar di masa kini, seperti menjaga nama baik bangsa di ruang digital, menolak perundungan dan provokasi, serta selalu menggunakan bahasa yang bijak di media sosial”. Lanjutnya, Profil pemuda saat ini dituntut untuk kreatif menciptakan produk atau inovasi lokal, kritis agar terhindar dari adu domba berita palsu, serta kolaboratif menyelesaikan masalah sosial. Tegas Zalfa.
Dan yang terakhir dari akademisi Direktur Runding Indonesia M. Riyadh. F menyampaikan bahwa Sumpah Pemuda bukan dari sekadar seremoni yang diwariskan secara tahunan, melainkan sebuah keputusan politik-kebangsaan untuk membayangkan diri sebagai kesatuan bangsa. Ia menegaskan bahwa inti pelajaran dari persatuan bukanlah menghilangkan perbedaan, tetapi bagaimana perbedaan tersebut memiliki tujuan yang bersama.
Menyoroti bahwa Kongres Pemuda lahir dari kerja kolektif dan bukan sekadar cerita dari satu atau dua nama tokoh saja, pemuda di zaman sekarang dituntut untuk meneladani kerja sama tersebut dalam menghadapi berbagai ujian.
Sebagai penutup, ia mengajak pemuda untuk mengubah ikrar dan slogan menjadi kebiasaan sehari-hari melalui cara berpikir berbasis fakta, berdialog dengan mendengarkan tanpa menghakimi, bergerak secara kolaboratif mengatasi masalah nyata, dan senantiasa mengevaluasi dampaknya secara bersama-sama.





